Gamer Profesional Jangan Lupakan Pendidikan

Jakarta – Hadirnya Asosiasi e-Sport Indonesia (IeSPA) seolah menjadi angin segar bagi gamer di Indonesia. Ini artinya mereka yang hobi bermain game punya kans untuk bisa menjadi seorang atlet game profesional seperti di negara-negara lain. Caranya?

“Yang jelas dia atau grupnya harus bisa membuktikan kalau dia jago bermain game. Gimana caranya? Ya ikut berbagai kompetisi dan jadi juara,” ujar Eddy Lim, Ketua Umum IeSPA kepada detikINET seusai pembukaan Megaxus Olimpiade 2014 di Mall Ciputra, Jakarta Barat, Rabu (3/12/2014).

Lebih lanjut Eddy mengatakan jika sebaiknya atlet tersebut tak hanya menggantungkan hidup dari main game. “Boleh jago bermain game, tapi dia juga harus mengejar pendidikannya. Ini berguna bila nantinya ia tak lagi menjadi seorang atlet e-Sport profesional,” tutur Eddy.

Sebab, menurut Eddy efektifnya seorang atlet e-Sport yakni di kisaran umur belasan hingga 30 tahun. Selebihnya, reflek seseorang biasanya akan berkurang dan berimbas pada performa atlet tersebut.

“Ketika atlet tersebut berkecimpung di dunia game, pasti secara tidak langsung akan berkecimpung juga di industri game. Nah, di sinilah peran pendidikan tadi. Karena walaupun gantung keyboard dan mouse (pensiun-red), atlet tersebut masih bisa melakoni pekerjaan lain, seperti bisnis jual-beli equipment game yang mana itu semua butuh pengetahuan,” ujar Eddy.

Asosiasi e-Sport di Indonesia Lebih Terorganisir

Dalam penyelenggaraannya, Megaxus Olimpiade 2014 yang digelar dari tanggal 3 – 7 Desember 2014 memang turut mendapat dukungan dari asosiasi e-Sport Indonesia (IeSPA). Asosiasi di bawah Kementerian Pemuda & Olahraga ini dibentuk guna mewadahi gamer di Indonesia yang ingin serius menjadi atlet e-Sport.

Indonesia sendiri merupakan satu dari 48 negara yang memiliki asosiasi seperti IeSPA. Pun begitu, Eddy Lim selaku Ketua Umum IeSPA mengklaim jika asosiasi e-Sport di Indonesia lebih terorganisur ketimbang negara-negara lain di Asia Tenggara.

“Dari 48 negara tersebut, hanya ada 6 negara yang asosiasinya sudah terintegrasi dengan pemerintah. Indonesia salah satunya,” tegas Eddy.

Terintegrasi di sini maksudnya adalah pengakuan dari pemerintah. “Hubungan birokrasi dengan pemerintah berjalan serasi. Kami pun mendapat pengakuan dari Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI),” papar Eddy.

Namun sayang, dukungan baru sampai tahap pengakuan saja. Sampai saat ini IeSPA belum mendapat pendanaan dari pemerintah. “Kami masih mengandalkan pendanaan dari swasta saja,” ujar Eddy. Hal ini karena pemerintah masih fokus pada cabang olahraga yang lebih prioritas.

Pun begitu Eddy yakin jika ke depannya dukungan tersebut akan lebih baik lagi. Eddy optimis karena pemerintah sendiri sudah melihat bahwa Indonesia punya banyak sekali gamer berbakat yang menurut Eddy sayang jika tidak dioptimalkan.

“Kita tahun depan akan dilibatkan dalam Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) 2015 digelar di Bali. Nah, e-Sport ini akan menjadi salah satu cabang olahraga dari total 40 cabang olahraga rekreasi yang diperlombakan,” pungkasnya.

sumber : http://inet.detik.com/read/2014/12/03/173431/2766940/654/gamer-profesional-jangan-lupakan-pendidikan