Solusi VMware Bagi yang ‘Lapar’ Virtualisasi

San Francisco – Hari pertama VMworld 2014 menjadi tempat peluncuran berbagai produk baru VMware. Jajaran eksekutif VMware termasuk CEO Pat Gelsinger memperkenalkan inovasi terbarunya di bidang virtualisasi.

Solusi baru yang ditawarkan VMware menyasar para Chief Information Officer, manager TI, administrator storage, spesialis sekuriti, sampai Chief Financial Officer yang ingin memperkuat organisasinya.

Produk baru yang ditawarkan di antaranya adalah vCloud Suite 5.8, VMware NSX 6.1, vSphere 6.0 beta, Virtual Volumes & Virtual SAN 2.0 beta, serta VMware vRealize Suite.

Bill Fathers selaku Executive President dan General Manager Hybrid Cloud berbicara tentang penawaran di solusi vCloud Air (sebelumnya VMware vCloud Hybrid Service).

Yang pertama adalah vCloud Air Virtual Private Cloud, sebuah akses instan on demand layanan hybrid cloud elastis yang beroperasi di lingkungan VMware. Kemudian vCloud Air Object Storage, storage data yang tidak terstruktur, yang diklaim hemat biaya.

Bill menambahkan bahwa penggunaan cloud di enterprise sekarang tumbuh pesat. Pada tahun 2009, hanya 2% beban kerja enterprise menggunakan cloud. Di 2014 menjadi 6% dan terus meningkat.

Pengumuman penting lainnya adalah VMware Integrated OpenStack, layanan yang memungkinkan perusahaan terutama UKM punya fleksibilitas untuk membangun software defined datacentre (SDDC) di berbagai platform teknologi.

Kemitraan yang lebih mendalam terjadi VMware dengan Dell. Pada kesepakatan baru, VMware akan menyediakan solusi pre configured yang mengkombinasikan VMware NSX dengan Cumulus Network di switches Dell Networking.

VMware membuka pula selubung EVO:Rail, infrastruktur hyper converged yang ditujukan untuk mempersingkat dan melakukan scale out dari software-defined infrastruktur TI. Solusi ini menargetkan segmen enterprise dari berbagai bidang seperti layanan pemerintahan, kesehatan dan pendidikan.

VMworld 2014 berlangsung di kota San Francisco sampai tanggal 28 Agustus. Perhelatan tahunan ini diikuti sekitar 22 ribu peserta dari 85 negara.

Kali ini, tema utama VMworld adalah No Limits. CEO Vmware Pat Gelsinger menekankan pentingnya keberanian pada para pemimpin sektor TI, terutama untuk bergerak ke software-defined data center (SDDC) dan hybrid cloud yang dianggap sebagai masa depan.

“Ini adalah momen Anda. Bisnis Anda, perusahaan Anda, pemimpin bisnis Anda mengandalkan Anda untuk menunjukkan jalan,” kata Gelsinger.

Sumber : http://inet.detik.com/read/2014/08/27/075640/2673627/319/2/solusi-vmware-bagi-yang-lapar-virtualisasi

Meraup Jutaan Dolar dari YouTube

Jakarta – Anda yang tumbuh di tahun 1990-an, pasti mengenal program yang cukup fenomenal saat itu, America’s Funniest Home Video. Program buatan ABC itu menampilkan kompilasi video lucu kiriman penonton.

Program TV itu kini mungkin sudah tenggelam. Bukan karena sudah tidak menarik lagi, namun perlahan terkena imbas pergeseran dari saluran televisi ke media internet, salah satunya adalah YouTube.

Di situs berbagi video itu, penonton bisa menyaksikan berbagai tingkah polah yang biasa disaksikan di America’s Funniest Home Video. Bedanya, penonton bisa melihatnya kapan saja, tema apa saja dan bisa berinteraksi dua arah. Terlebih, Anda pun bisa mendapatkan uang dari YouTube.

Apa yang diberikan oleh Google — sebagai pengelola YouTube — ke pengirim videonya memang tak main-main. Sampai ada yang rela meninggalkan pekerjaannya demi menghasilkan video yang nantinya ditonton banyak orang.

Konsepnya sederhana, semakin banyak yang menonton semakin banyak juga pundi-pundi uang dihasilkan. Dan jangan kaget, bila ada yang mendapatkan uang dari ribuan dolar hingga jutaan dolar dari sini.

Artis YouTube ini lintas negara, ada yang terkenal di lokal ada juga yang sudah go international. Kreasi videonya beragam, ada yang amatir ada juga yang mendapat sentuhan profesional. Intinya perputaraan uang juga bisa dihasilkan dari industri ini.

detikINET akan mengupas bagaimana industri dan pelakunya menghasilkan dolar dari YouTube. Termasuk bagaimana dan tips serta triknya menjadi jutawan dari YouTube.

SUmber : http://inet.detik.com/read/2014/08/26/062312/2672337/398/meraup-jutaan-dolar-dari-youtube

Aplikasi Gmail di Android Mudah Dibobol

Jakarta – Bila selama ini Anda merasa aplikasi Gmail di smartphone aman. Coba pikirkan kembali. Pasalnya, sejumlah ahli keamanan menemukan celah yang mudah dieksploitasi.

Para peneliti dari Universita Michigan dan California membeberkan bagaimana mudahnya menerobos secara ilegal ke aplikasi Gmail dengan tingkat keberhasilan mencapai 92%,

Para peneliti dari Amerika Serikat itu menunjukan di Konferensi Cybersecurity di San Francisco dengan menyamarkan perangkat aplikasi lunak yang telah disisipi. Sampai kemudian mereka mendapatkan akses penuh ke Gmail.

Aplikasi yang disusupi pun boleh dibilang banyak yang mengira tidak berbahaya, seperti wallpaper dan melalui celah di memori smartphone.

Pihak penguji melakukan aksinya dengan menggunakan ponsel Android. Namun hal ini dapat dilakukan di smartphone dengan sistem operasi lainnya.

“Kami menujukan asumsi bahwa aplikasi satu tidak akan menganggu dengan yang lainnya adalah salah. Dan mengakibatkan konsekuensi berbahaya bagi pengguna,” kata Asisten Profesor University of California Zhiyun Qian, yang detikINET kutip dari BBC, Minggu (24/8/2014).

Google pun mengetahui mengenai rentannya masalah tersebut dan menyambutnya dengan postif. “Penelitian pihak ketiga adalah salah satu cara agar Android tetap kuat.” kata Juru Bicara Google.

SUmber : http://inet.detik.com/read/2014/08/24/173000/2671042/323/aplikasi-gmail-di-android-mudah-dibobol

Waspada! 3 Malware Ini Paling Ngotot Serang Indonesia

Jakarta – Indonesia dan negara lainnya di kawasan Asia Pasifik dan Jepang menjadi target serangan palingan serius (advanced persistent threat/APT) dari gerombolan malware dibandingkan rata-rata negara lainnya di dunia.

Menurut catatan FireEye, perusahaan keamanan teknologi, malware yang paling banyak digunakan untuk menyerang adalah Gh0stRat (41.67%), DarkComet (25%), dan Mirage (16%).

“Indonesia dengan tingkat ancaman 40% memang lebih sedikit lebih rendah dibandingkan Singapura (41%), akan tetapi ancaman ini tetap di atas rata-rata global yakni 36%,” kata Bryce Boland, Vice President & Chief Technology Officer FireEye Asia Pacific di Hotel Shangrila, Jakarta, Selasa (19/8/2014).

Khusus untuk malware Gh0stRat dan DarkComet ini, menurut Boland, sering digunakan sebagai perangkat kriminal untuk mencuri data perbankan. Perangkat gratisan ini mudah diakses dan dapat juga digunakan untuk menyembunyikan asal penyerang.

Malware ini secara signifikan menyerang layanan bisnis dan consulting, sektor jasa, pemerintah, dan teknologi tinggi adalah yang paling sering disasar oleh serangan cyber ini.

Sektor lain juga rentan terhadap serangan termasuk media/hospitality, telekomunikasi, pendidikan dan kimia/manufaktur/penambangan dan sektor layanan finansial.

Sementara untuk malware Mirage, sering digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu di Asia menggunakan dokumen pengumpan yang berhubungan dengan event regional seperti ASEAN summit, APEC summit, eksplorasi energi, dan kegiatan militer.

“APT Mirage ini aktif di Indonesia dan di seluruh Asia Tenggara. Tercatat, Indonesia memiliki tingkat eksposur APT sebesar 40%,” kata Terrance Tangit, Regional Director FireEye Indonesia, Vietnam & SEA New Markets.

SUmber : http://inet.detik.com/read/2014/08/19/175447/2666733/323/waspada-3-malware-ini-paling-ngotot-serang-indonesia?i992202105